Welcome

Welcome

Kamis, 24 Oktober 2013

SEJARAH REBO WEKASAN DESA SUCI-MANYAR-GRESIK



Rebo Wekasan adalah sebuah upacara unik yang hanya ada di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Diadakannya setiap hari rabu terakhir, dan hanya di bulan Sapar, 'Wekas' itu ternyata berasal dari evolusi kata 'Pamungkas', kata bapak Fajeri.(Dukut Imam Widodo, dkk) Syahdan, Sunan Giri memerintahkan salah seorang santrinya yang menonjol dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, buat menyiarkan agama islam disekitar perbukitan yang agak jauh dari wilayah giri. Daerah yang dipilih Sunan Giri adalah Desa Pelaman, sebuah bukit kapur yang tandus dan gersang. Tentu Sunan Giri memiliki alasan tertentu mengapa harus memilih desa itu? Mengapa tidak menyiarkan agama islam di tempat yang lebih subur? Siapapun yang tinggal di daerah tandus tentu memiliki tantangan yang lebih berat dalam hidup ini, jika dibandingkan dengan mereka yang tinggal di tempat yang subur dan makmur. Dan mereka yang tinggal di daerah yang gersang, sudah dapat dipastikan memiliki watak yang keras serta tempramental. Bisakah orang - orang Desa Pelaman ini ditaklukkan?
Setelah melalui pertimbangan yang matang, maka Sunan Giri memilih salah seorang muridnya yang cukup piawai, Kadham nama murid itu. Segera saja ia melaksanakan tugas tersebut. Dan sesuai petunjuk sunan giri maka langkah pertama yang dilakukan olehnya adalah mendirikan masjid di Desa Pelaman. Masjid ini kelak akan dijadikan pesantrennya. Orang – orang di daerah perbukitan tandus itu tentu sudah mengenal siapa itu Sunan Giri. Ternyata sebagian besar diantara mereka mau menerima kehadiran Khadam. Mereka bahkan membantu mendirikan masjid yang dibangun oeh khadam, tidak itu saja, banyak yang diantara dari mereka memeluk agama islam.
Tiba - tiba sajadi Desa Pelaman terjadi suatu musibah! Orang - orang diwilayah itu sebenarnya sudah terbiasa dengan keadaan yang serba gersang dan tandus apalagi dimusim kemarau. Namun, musim kemarau kali ini jauh lebih panjang. Perlahan lahan sumber air diwilayah itu mulai mengering. Banyak tumbuhan yang mulai layu, manusia dan hewan kehausan sepanjang hari. Sumur di masjid Desa Pelaman pun menunjukkan tanda - tanda kalau muai berkurangnya air dan akhirnya memang benar - benar telah mengering. Rakyat Desa Pelaman pun Panik. Kadham pun, menghadap sunan Giri untuk melaporkan kejadian tersebut. Dengan penuh perhatian Sunan Giri mendengarkan segala penuturan Khadam. Sunan Giri akhirnya memutuskan untuk mengunjungi desa Pelaman, disertai dengan Khadam besrta para santri lainnya. Setiba di Masjid Pelaman, Sunan Giri melihat sumur masji yang mengering itu. Lantas, beliau pun berucap: "Oo, iki tho Sumur Ginseng". Khadam dan para santri lainnya pun mengangguk. Kita semua yakin bahwa Sunan Giri memiliki daya linuwih. Maka dengan kemampuan spiritual yang dimilikinya, Sunan Giri mengatakan pada Khadam bahwa sebenarnya beberapa ratus meter dari masjid Pelaman terdapat sumber air yang sangat besar. Tapi jalan menuju tempat tersebut sangat terjal. Khadam sangat patuh dengan petunjuk Sunan Giri, dan akhirnya yang dikatakan Sunan Giri adalah benar. Kelak, orang - orang desa Pelaman menamai sumber air itu dengan Sumur Gede. Penduduk pun bersuka cita dengan ditemukannya Sumur Gede tersebut. Hanya saja mereka mengeluhkan etak sumur Gede yang terjal. Jangankan untuk mengambil kebutuhan sehari - hari, sedangkan untuk mengambil air wudhu saja mereka harus mendaki jlan yang turun naik. Namun. Sesungguhnya dalam hati kecilnya orang - orang itu mau melakukannya dengan perasaan tulus.
Mésêm – nangis, Mésêm – nangis, Mésêm – nangis. Itulah yang dilakukan warga Desa Pelaman. Dari ucapan itu lantas muncul ucapan Sêmanis. Lama - lama ucapan itu menjadi sebuah nama. Lokasi dimana sumur Gede itu disebut Sêmanis. Akan tetapi, agaknya alam tidak mau lagi bersahabat dengan Khadam. Atau ini ujian dari Tuhan? Lantaran orang yang mengambi air dari Sumur Gede berasal dari desa - desa yang lain dan sekitarnya sehingga lambat laun Sumur Gede mulai menyusut. Ditambah lagi dengan musim kemarau berikutnya ternyata tidak juga kunjung henti. Banyak tanaman dan ternak yang mati karena kekurangan air. Kembali Khadam menghadap Sunan Giri. Kali ini Sunan Giri memberi petunjuk kepada Khadam dan santrinya untuk berjalan ke arah utara. Jika mereka menemukan lahan, dimana disitu terdapat tumbuh - tumbuhannya, maka di tempat itu pasti terdapat sumber airnya. Jika kita menggunakan nalar, maka petunjuk Sunan Giri itu masuk akal. Coba anda pikirkan???
Sebab, bagaimana mungkin tanaman bisa tumbuh pada musim kemarau yang sangat panjang, jika disitu tidak ada sumber airnya. Petunjuk itu pun dituruti oeh Khadam dan para santrinya. Dan benar saja, ketika tiba di Desa Pongangan, mereka tidak saja menemukan tanaman yang tumbuh subur, namun juga seekor anjing yang basah kuyub.
Saya berpendapat bahwa pertemuan dengan anjing itu merupakan “perlambang” yang sangat bijak. Bahkan kelak Sunan Giri sendiri memberi nama wilayah itu dengan Sebutan Asu Suci. Namun, kelak sebutan Asu Suci itu lama kelamaan hilang begitu saja. Orang lebih suka menamai wilayah itu dengan Suci saja.
Kembali ke kisah tatkala Khadam dan para pengikutnya menemukan sumber air di wilayah itu : "Sumber...sumber......" seperti itulah yang di ucapkan Khadam dan para pengikutnya kala itu. Khadam pun melaporkannya pada Sunan Giri. Segera Sunan Giri memerintah Khadam dan para pengikutnya untuk membuat tiga buah kolam besar untuk padusan. Yang satu khusus untuk keperluan para lelaki. Yag sebuah lagi untuk kaum wanita. Sedangkan yang satu lagi untuk keperluan ternak. Sungguh ini suatu keputusan yang bijak dari Sunan Giri. Berita tentang ditemukannya sumber air baru itu segera menyebar kemana - mana. Segera saja sumber air itu di datangi orang. Masjid yang semua didirikan Khadam di Desa Pelaman, akhirnya dipindah juga di tempat itu. Dengan di temukannya sumber air itu, maka masyarakat dapat membuka lembaran hidup baru di sekitar tempat itu. Dan tempat itu diberi nama Desa Sumber hingga sekarang.
Menurut penaggalan jawa, hari diketemukannya sumber tadi, dan juga selesainya pembangunan masjid yang semula dari Desa Pelaman, jatuh pada Hari Rebo Pungkasan di bulan Sapar. Begitu berartinya penemuan sumber tadi, akhirnya mereka merasa perlu untuk mengadakan Tasyakuran, sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan yang telah meimpahkan rahmatNya. Pada hari Rebo tengah malam, pungkasan atau akhir bulan sapar itulah tasyakuran itu dilaksanakan. Para penduduk mensucikan diri dengan berwudhu di kolam - kolam yang telah di sediakan, kemudian dengan takzim mendengarkan wejangan Sunan Giri.
Kala itu sunan Giri bersabda :
"Sumber air ZamZam di MasjidiHaram Mekah ditemukan pada hari Rebo Pungkasan. Jadi khasiat sumber air disini juga sama dengan air Zamzam".
Selanjutnya beliau bersabda
" Barang siapa mensucikan dirinya di air ini, pada tengah malam Rebo Pungkasan di Bulan Sapar, dan ia dengan khusuk mengajukan permohonannya pada Allah SWT, maka dengan kehendak Allah SWT, permohonan itu akan dikabulkan. "
Selanjutnya Sunan Giri berpesan agar tiap tahun di bulan Sapar, pada tengah malam rebo Pungkasan, diadakan tasyakuran seperti ini. Rakyat pun tunduk dan patuh dengan wejangan itu. Nah . . . sejak ituah acara Rebo Pungkasan (Wekasan) pada bulan Sapar di Desa Suci dilangsungkan hingga sekarang.


Sumber
Buku : GRISSE TEMPO DOELOE
Diterbitkan Oleh : PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK 2004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar